25.9.09

Catatan 1

Bukankah manusia diciptakan untuk menghadapi badai? Ah, sementara Allah
tidak pernah membiarkan hambaNya berjalan sendiri; sementara Allah tahu persis kadar kemampuan hambaNya. Biarkan kita berteman dengan caci maki. Bukankah baik buruk selalu ada balasannya? Sekecil apapun itu.
readmore »»

16.9.09

Menyambut Kelahiran Bayi

Bagi yang sedang menunggu si jabang bayi yang mau lahir (termasuk saya), terutama nih bagi kaum muslimin se-Indonesia (cz pke bahasa Indonesia...k.k.k.k...) ada baiknya atawa disunnahkan untuk melakukan hal hal sebagai berikut :

1. Adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri;
2. dibacakan : ayat kursi (QS al Baqarah 255), ayat Inna Rabbakumullah (QS al A'raf 54), al Ikhlas, al Falaq, an Naas, doa "La-ilaaha-illalla-hul adhimul halim. La-ilaaha-illalla-hu rabbul arsyil adhim. La-ilaaha-illalla-hu rabbus samawati warabbul ardli warabul arsyil karim", doa Nabi Yunus as (QS al Anbiya' 87), QS al Qadr, ditambah dengan doa orang tua sayyidah Maryam saat kelahiran beliau yang terdapat pada QS Ali Imran 36.
Bacaan2 diatas tidak wajib tapi sayang kan jika tidak dilakukan cz hanya ada satu kesempatan sekali seumur hidup buat si anak.

Tips lainnya adalah :
1. Memberi harum-haruman di atas kepala bayi;
2. Beraqiqah pada hari ke-7;
3. Mencukur rambut;
4. Memberi nama, yang tentunya nama yang sebaik-baiknya;
5. Tahnik, menyentuhkan kurma yang telah dilembutkan (dikunyah) oleh ulama sebagi pewaris nabi;

Sedikit catatan :urutannya adalah aqiqah, cukur rambut, memberi nama. Bleh memberi nama dihari pertama jika tidak berniat aqiqah.

jangan lupa nih, bagi yang mendengar kelahiran seorang anak dari keluarga atawa teman atawa siapa saja, untuk mengucapkan selamat, "Barakallahu laka fil mauhubi laka wasyakartal wahiba wabalagha asyaddahu waruziqat birrahu" (mudah2an Allah melimpahkan berkah dan anda mensyukuri Dzat Pemberinya. Semoga si anak ini mencapai kedewasaannya dan dikaruniai kebaikan)

Buat yang diberi ucapan selamat menjawab dengan "Barakallahu laka wabaraka alaika" (semoga kalian juga diberkahi Allah) atawa "ajzalallahu tsawabaka" (semoga Allah memberimu balasan pahala yang besar)

Begitulah kira2 ringkasnya. Untuk lebih jelasnya lihat di www.pesantrenvirtual.com ya...
readmore »»

3.9.09

Lentera

untuk seorang Ibu

Malam menjadikanku tenang
Hanya, itu tidak sebanding
Ketika ia memelukku
Mendekap erat
Tak pernah biarkan aku dalam dingin


malam, malam ini begitu tenang
Dalam temaram aku merasa
Aku bukan apa apa
Aku tidak lagi punya sesuatu kecuali ia
Teramat berharga bagiku

Duh, aku belum sebaik seperti ia memperlakukanku
(terlalu sering) Perih kugores
Dan aku acuh tentang itu
Duh, Gusti
Jangan redupkan ia dari kehidupanku
Biarkan sinarannya senantiasa ada

Oh, berartinya ia
readmore »»

sms STRESS

Tadi pagi aku benar benar dibuat terkejut oleh sebuah sms. Sebenarnya sih sms masuk di hape istriku tapi gara gara agak mengganggu telingaku yang terkantuk kantuk usai shalat subuh (namanya samsung, sms masuk satu kalo ndak dibuka buka ya bunyi terus). SMS itu tertulis
"maz, u dimana? q mnta prtanggungjawbmu maz!! janin dlam prutq ini drah dgingmu maz!! u tlah mnghamiliq, dimana u skrang?! ato klo u tdkmw britahu q, akan q lporkn pd istrimu yg ktanya brnama dina itu,,!! q nggk main2 lho maz! u dimana??!"
Gubrak !!! Aku yang sebelumnya terkantuk kantuk jadi melek 100 watt. Alhamdulillah banget kan akhirnya aku bener bener melek. Terus aku bilang ma istriku yang juga masih terkantuk kantuk kalau ada sms stress tuh dihapenya.
Mau tahu jawapnya apa? "Alah paling juga sms reg spasi..."
Gubrak dua kali deh !!
Aku liatin ke istriku. Setelah dibaca, mo tau komentarnya? "Lah, cuekin aja...."
Ternyata ada untungnya juga ya punya istri yang cuek dengan hal begituan. Alhamdulillah dua kali deh.
Ya, ya, ya... Pengennya sih mencuekin tapi jujur saja rasa penasaranku ndak bisa aku sembunyikan. Gara - gara penasaranku, sms yang diatas aku forward ke hapeku. Alhasil dapat koment lagi deh dari istriku, "hayyooo....
Kalau diliat nomornya sih nomor three (3). 089980 bla bla bla...
Sampai siang ini pun aku masih bertanya siapa dan maunya apa. Saking penasarannya aku tanya ke mbah gugel nomor 089980 itu daerah mana dan ternyata mbah gugel sendiri juga ndak tau.
Ah, siapapun beliau dan maunya apa (maunya three (3) kali ya?), semoga saja setelah beliau ngirim sms itu hatinya seneng. Dimudahkan rezekinya dan dapat meraih keberkahan ramadhan tahun ini. Amin, amin....
Sudahlah, cukup aku tulis disini dan biarkan semua larut bersama keheningan hujan.
*) kalu emang penasaran banget kenapa ndak ditelpon langsung saja ya?
readmore »»

1.9.09

sedekah yok....

Apa iya sih kalau sedekah mengurangi harta kita? Apa iya sih gara - gara sedekah kita bisa jatuh miskin?
Di dalam QS Saba ayat 39, Allah SWT berfirman "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya."
Dari ayat diatas jelas bahwa
Allah akan menggantinya atas semua yang kita sedekahkan. Banyak kok gantinya, antara lain dapat mengundang rezeki dalam artian bukan hanya secara materi tetapi kesehatan, umur, terhindar dari halang rintang dan penyakit, ditenangkan hatinya. Bukankah itu adalah juga termasuk rezki?
Makanya kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Sedekah itu kecil tetapi amat berharga disisi Allah SWT.
Mau hidup berkah dengan SEDEKAH ?
Syukur.
Sudah sangat sering kita mendengar kata syukur. Bahkan kita sendiri pun tak jarang untuk mengatakannya. Yang jadi pertanyaan, apakah kita benar - benar telah bersyukur? Bersyukur disini bukan hanya dengan lisan tetapi dengan hati; dengan perbuatan.
Didalam QS Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman, "Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kam mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih."
Tiada kenikmatan, apapun wujudnya yang dirasakan manusia, melainkan datang dari Allah SWT. Dengan cara senatiasa mengingat bahwasanya kenikmatan itu datang dari Allah SWT maka sebagai salah satu tindakan nyata bersyukur adalah dengan menakahkan sebagian kekayaannya di jalan - jalanyang diridhai Allah SWT.
Silaturrahim,
Diantara amal shalih yang mendatangkan keberkahan adalah menyambung silaturrahim. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya maka hendaknya ia bersilaturrahim"
Bersedekah,
Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Hal ini dimaksukan agar rezeki yang diberikan Allah SWT menjadi tambah berkah. Allah SWT memberikan ganjaran yang berlipat ganda sebagaimana firmanNya dalam QS al Baqarah ayat 261, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui."
Nah, lo... Coba saja diitung-itung. Misal kita bersedekah senilai seratus maka Allah akan menggantinya sebesar tujuh puluh ribu. Bukankah itu merupakan investasi yang menguntungkan? Tapi tentu semua ada syaratnya, Ikhlas, Ikhlas, dan Ikhlas....
So... yakinlah bahwa kekuasaan Allah jauh lebih besar dibanding dengan persoalan yang dihadapi manusia.
So, yok sedekah yok... tentu dengan harta yang bersih... Semoga menambah keberkahan dalam hidup kita. Amin, amin, amin...
readmore »»

31.8.09

Bergegaslah....

Sepuluh hari telah berlalu
Begitu cepat
Sedang engkau tak berbuat apa apa
Betapa rugi

Masih ada dua puluh hari
Jika Malaikat belum menjemputmu
Bergegaslah....

Bersegera untuk membersihkan diri
Karena hanya ini waktumu
Tidak perlu menunggu kesempatan yang lain
Sujudlah seolah olah itu sujud terakhirmu

Bergegaslah...
Sebelum sakitmu
Selagi kaki kuat untuk melangkah
readmore »»

13.8.09

Tejo

Sangat banyak orang yang mau bersusah payah mengarungi lautan, menuruni lembah dan melewati jurang hanya sekadar ingin melihat- lihat peninggalan para leluhurnya. Mengapa mereka tidak lebih bersusah payah untuk mengekang jiwanya dan memerangi hawa nafsunya agar bisa sampai ke dalam hatinya. Karena di dalam hati yang bersih, dia akan menemukan peninggalan Rabb-nya

-Muhammad bin Fadl Al Balhi-


Udara dingin. Puncak gunung tertutup kabut putih. Hamparan hijau di batas kabut. Beberapa petani sudah mulai turun
menggarap tegalannya. Berkalung sarung. Dan asap rokok mengepul diantara kerutan wajahnya. Lainnya lengang. Mungkin sedang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng. Atau sarapan. Hari masih pagi. Jalanan masih sepi dari anak- anak sekolah. Sesekali terdengar deru truk membawa sayuran hasil panen. Menuju ke kota.
Serombongan anak usia belasan turun dari bus. Baju flanel, sepatu boot, tas ransel, dan slayer. Tujuh anak dua perempuan lima laki- laki. Wajah yang bersih. Wajah- wajah kota yang ceria. Seolah hidup tanpa beban. Sesekali terdengar tawa mereka. Entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga membuat mereka tertawa. Mereka berjalan mendekat. Pasar mulai diisi para pedagang. Satu per satu pembeli menawar harga.
“Nyuwun pangapunten, mas ?”
Salah satu dari mereka bicara. Kupandangi satu per satu. Tatapan mata yang ceria, tatapan mata yang ramah.
“Menawi badhe pados base camp wonten pundi, nggih?”
“Lurus kemawon. Ndherek margi punika. Mangkih menawi sampun dugi pertelon, panjenengan belok kiri. Tigang ndalem kanan margi, wonten plakat PERSADA base camp. Sa’derengipun masjid menawi saking mriki.”
“Maturnuwun, mas. Kula Yudi.”
“Tejo.”
“Wawan.”
Kupandang. Rambut pendek ala militer. Agak hitam. Tinggi kira- kira 170 cm. gigi putih.
“Andi.”
Kupandang. Kacamata. Hidung tidak terlalu mancung. Mata tajam. Agak gelap.
“Sigit.”
Kupandang. Tinggi sekitar 174 cm. Kulit sawo. Pakaiannya terlihat paling santai. Punya jenggot tipis.
“Rahmat.”
Kupandang. Terlihat gemuk. Rambut agak panjang. Mata bulat. Dingin.
“Diana.”
Kupandang sekilas. Jilbab. Mata nampak teduh. Senyum. Tanpa jabat tangan.
“Ze.”
Kupandang sekilas. Tomboy. Celana jeans dipotong. Kaos hijau. Senyum. Tanpa jabat tangan.
“nggih sampun, mas. Kula kaliyan rencang- rencang badhe istirahat rumiyin.”
“Mangga, mangga”
Anggukan kepala. Senyuman. Langkah kaki meninggalkan seorang lelaki bernama Tejo.
Siang terlewati seperti biasa. Kulihat jarum jam. Menunjuk jam tigalebih sepuluh menit. Ku bergegas dari ladang. Kuusap peluh yang dingin. Seteguk dua teguk air kendi mengisi kerongkonganku. Usai kubasuh muka dan tangan ala kadarnya dari sebuah pancoran. Adzan ashar terdengar. Tepat menusuki hati kecilku. Entah berapa hari ini aku seperti malas. Malas untuk sujud. Padahal usiaku bukan anak- anak lagi. Duapuluh satu tahun yang lalu.
Sebelas tahun yang lalu aku masih asyik dengan tilawatil Qur’an. Betapa sabar ustadz Nawi mengajariku. Tejo yang agak badung. Tejo yang berhenti sekolah di usia empat belas.
Aku pulang. Di depan rumah ada sebuah papan. Buatan sendiri dari kayu hutan beberapa minggu yang silam. PERSADA base camp.
Rumah tidak terlalu kecil. Dari depan terlihat dua pintu. Empat jendela. Pekarangan yang dipenuhi bermacam bunga. Buah karya seorang kakak perempuanku yang telah meninggal karena serangan kanker. Kurang terawat memang.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa allaikum salam.”
Kusegera masuk dan kudapati ibu yang mulai terlihat keriput sedang menggoreng ubi. Ubi yang dibawa bapak kemarin sore.
“Bapak tindak pundi, Bu ?’
“jarene sowan ning nggone pak RT. Ana sing perlu diomongake. Wis kana, adus dhisik trus aja lali ashar.”
“Nggih, Bu.”
Masuk kamar. Bilik yang terbuat dari triplek. Lantai tanah. Terdengar keras suara anak- anak usia belasan. Bercanda. Kadang tawa kecil. Yudi, Sigit, Rahmat, Diana, Wawan, Ze, Andi. Ya, aku ingat itu. Kuintip ruang tamu. Kuintip dari sebuah lubang yang sengaja aku buat. Kalau dari ruang tamu, lubang itu ada di dalam mata gambar harimau yang aku buat lima tahun lalu. Tidak terlalu bagus. Dan tampak usang.
Mataku terpaku sesosok perempuan. Dia Diana. Tampak hanya mengumbar senyum saat melihat teman- temannya asyik bercerita bercanda. Dia terlihat manis. Dengan kaos lengan panjang. Biru. Jilbab putih. Celana panjang.
Keluar kamar dan senja. Kulangkahkan kakiku. Melangkah menuju masjid di sebelah rumahku.
“Mas Tejo, ya?”
Berhenti. Kumenoleh. Terkesiap. Seorang Diana berjalan mendekati. Keluar dari pintu sebelah barat. Dan menunduk. Diana angkat wajahnya. Udara sejuk berhembus dari bulu matanya.
“Kalau boleh tahu, rumah mas Tejo yang mana ?”
aku menunjuk sebuah rumah. Pintu dua. Empat jendela tampak dari depan. Sebuah pekarangan bertaman. Plakat PERSADA base camp berdiri dan terkesan lusuh.
“Itu rumah saya.”
Terbata bata. Ada sesuatu yang bergerumuh. Bergejolak di balik rongga jantung.
“Lho? Jadi rumah ini punya mas Tejo ?”
“Bukan.”
“Bukan ? Katanya itu rumahnya mas Tejo.”
“Saya belum punya apa-apa. Saya masih numpang di rumah orangtua saya.”
Terlihat senyum kecil. Tawa kecil.
Orang- orang telah berbondong- bondong ke masjid. Anak- anak bermain petak umpet. Beberapa orang bersorban tampak mengisi waktu menunggu adzan maghrib. Ustadz Nawi pun terlihat diantara mereka.
Sebenarnya aku malu untuk datang ke masjid. Aku malu dengan ustadz Nawi. Aku merasa tidak pantas lagi untuk mendatangi tempat suci ini. Waktu kakak perempuanku masih hidup, sering aku di tempat ini. Dia yang selalu memberikan dorongan, dia yang selalu memaksa diriku untuk datang mengaji ketika sore, dia yang selalu menuntunku dan memarahiku bila aku malas pergi ke masjid yang berjarak cuma beberapa langkah dari rumah.
Sejak meninggalnya kakakku, kehidupanku sedikit demi sedikit berubah. Shalat wajib yang hanya lima waktu kadang kulewati. Mungkin di alam yang belum kukenali disana, kakakku menangis. Sementara bapak dan ibu selalu berusaha mengingatkan, tapi aku….
Pucuk Merapi terlihat gagah. Berlangitkan jutaan mimpi dan harapan manusia. Di ufuk barat matahari terlihat begitu letih setelah seharian memberikan cahayanya. Terkadang tidak mampu menembus tebalnya kabut awan pegunungan.
Malam telah beranjak. Suara syahdu di sebelah kamar. Kuintip dari sebuah lubang kecil. Sigit asyik membaca buku. Entah buku apa. Wawan sibuk dengan barang bawaannya. Dan suara itu keluar dari sebuah bibir perempuan. Diana. Yang lain tidak terlihat disana. Sementara diluar, telah tampak embun berkilau oleh lampu sepuluh watt. Udara menusuk. Bilik bambu. Kurebahkan angan.
Samar kulihat jarum jam saat kumendengar suara berisik dari balik dinding. Sepertinya mereka bersiap untuk berangkat. Menentang dingin. Kuberanjak keluar. Puncak Merapi tertutup kabut. Kabut teramat tebal. Angin berhembus agak kencang. Badai. Akan datang badai.
Mereka berpamitan. Berucap terima kasih karena besok mungkin tidak mampir. Langsung pulang. Aku berusaha mencegah. Sementara deru angin mulai menghempas. Memainkan ujung rambutku. Kutahan hempasan itu. Mereka tetap melangkah. Meninggalkanku dalam gelisah.
Wuss. Wuss. Angin semakin kencang. Beberapa pohon telah roboh. Menutup jalan utama. Hanya satu dua orang yang keluar untuk melihat. Selebihnya berdiam di dalam rumah. Mungkin berdoa atau sekedar bercanda. Hujan mulai rintik sejak shubuh. Dan tujuh anak umur belasan itu…. Semoga mereka bisa pulang tanpa kurang sesuatu apa. Aku yakin kedatangan mereka telah ditunggu orangtua dan saudara mereka. Teman- teman mereka.
Resah. Selang hari. Tujuh anak umur belasan itu…
“bu, kula badhe medal rumiyin.”
“Arep ning ngendi udan- udan ngene?”
“Mlampah- mlampah kemawon.”
“Yen pengen metu sa’durunge maghrib pokoke kudu wis ning ngomah.”
Kubenahi. Sepasang sarung tangan. Sepatu butut. Sebuah baju tebal. Sarung. Bungkusan nasi ala kadarnya. Kuambil wudlu. Dhuha. Doa dan kekuatan.
Angin diluar seakan marah. Satu lagi pohon besar tumbang di ujung desa. Satu lagi akan ada yang hilang. Batas jalan desa dan setapak. Kupandangi sekali lagi. Rumah dua pintu empat jendela. Tegalan teramat sepi. Hujan gerimis. Angin menghempas. Aku menghilang. Ditelan kabut.

readmore »»